Kamis, 09 Februari 2012

20 program anak yang paling sehat dinilai dari aktivitas fisiknya

Adyanews - FILM kartun popular yang menghadirkan Scooby Doo, seekor anjing rasgreat dane dengan perilaku pengecut dan memiliki nafsu makan tak terpuaskan ternyata dianggap sebagai kartun yang paling sehat.  Hal itu terungkap dari hasil survei yang diterbitkan oleh Departemen Kesehatan AS. Scooby juga mengalahkan beberapa tokokh kartun ternama dan legendaries lainnya seperti Tom and Jerry dan Wile E Coyote.

Para konsultan sebelumnya memantau stasiun televisi anak-anak yang menampilkan 20 program yang paling populer dan mencatat jumlah aktivitas fisik. "Setiap karakter dinilai dari tingkat aktivitasnya dan menerima nilai untuk perilaku yang baik seperti berjalan dan bermain olahraga," menurut jubir Departemen Kesehatan AS.
Karena banyaknya gerakan geng Scooby yang berlari dari monster, mereka pun menduduki puncak daftar tersebut.

Namun, jubir kementerian itu menegaskan bahwa pihaknya tidak menjadikan Scooby Doo yang terkenal hobi mengemil Scooby Snax sebagai anutan yang sehat. Seperti dikutip dari The Telegraph, Kamis (15/9), Anne Milton, dari Depkes AS mengatakan, "Pola makan sehat dan hidup aktif sangatlah penting terutama saat masa pertumbuhan."  Berikut daftar 20 program anak yang paling sehat dinilai dari aktivitas fisiknya :

1. Scooby Doo
2. Shaun the Sheep
3. Lazy Town
4. Peppa Pig
5. Bob The Builder
6. Tom and Jerry
7. Dora the Explorer
8. Looney Tunes
9. SpongeBob Squarepants
10. In the Night Garden
11. Ben 10
12. The Simpsons
13. Phineas and Ferb
14.The Sarah Jane Adventures
15. Tracey Beaker
16. Postman Pat
17. iCarly
18. Horrid Henry
19. Garfield
20. Charlie and Lola 

follow twitter @ beiga2509
sumber ; http://mencengangkan.blogspot.com

Memukul dan Membentak Bisa Membuat Anak Depresi

Adyanews - Gangguan ini berkembang hingga mereka beranjak dewasa, ditambah dengan sikap agresif dan kerap membantah orang-orang di sekitarnya.  MEMUKUL, menampar, atau membentak saat si kecil berbuat nakal dapat memancing tindakan agresif saat mereka dewasa nanti. Demikian kesimpulan dari studi selama 20 tahun yang digelar para peneliti dari University of Manitoba dan Children’s Hospital of Eastern Ontario.

Joan Durrant, anggota tim peneliti, menemukan hukuman fisik berkaitan dengan tingginya sikap agresif dan pemberontak yang dirasakan anak terhadap orang tua, saudara dan teman-temannya. Dari 500 keluarga yang menjadi bahan riset ini, terdapat sejumlah anak yang kerap mendapat hukuman secara fisik, seperti dipukul, ditampar atau dibentak oleh orang tuanya.

Akibat hukuman itu, mereka diketahui rentan terhadap depresi dan gangguan mental lainnya. Gangguan ini berkembang hingga mereka beranjak dewasa, ditambah dengan sikap agresif dan kerap membantah orang-orang di sekitarnya.

Seperti diberitakan Daily Mail, Rabu (8/2), selama 20 tahun pengamatan, para peneliti telah menemukan banyak perubahan pola pikir masyarakat mengenai metode hukuman bagi anak. Membentak, menampar, memukul, atau menepuk bokong sebagai tindakan sanksi bagi anak mulai diatur secara hukum di beberapa negara.

Memukul anak sebagai bentuk hukuman dilegalkan di AS dengan batasan-batasan tertentu yang berbeda di masing-masing negara bagian. Namun tindakan ini dilarang keras di 20 negara Eropa, termasuk Jerman, Spanyol dan Belanda. Di Inggris, hukuman secara fisik masih diperbolehkan, asalkan tidak meninggalkan bekas luka di tubuh. Peraturan ini dibuat sejak 2004, tapi tidak menghentikan 71% persen orangtua yang masih keukeuh mendukung hukuman fisik terhadap anak.

Para peneliti menyarankan agar orang tua memberlakukan sanksi yang tidak menyakiti fisik anak dan meamhami apa pengaruhnya terhadap perkembangan perilaku anak.
follow twitter @beiga2509
sumber : plasamsn.com

Minggu, 05 Februari 2012

Yuk, Ajarkan Menabung Lewat "Storytelling"!

Adyanews -"Pada dasarnya, pada usia tersebut anak-anak lebih menyukai cerita sebab lebih mudah diserap dan menghibur." -Maya Rizano-. Demikian diungkapkan Maya Rizano, Head of Group Communications and Corporate Sustainability HSBC Indonesia, Sabtu (12/11/2011), saat memaparkan program "Uangku Usahaku" di Jakarta. Paparan program perdananya sudah dilakukan di Sekolah Dasar Adik Irma, Jakarta.

Maya menuturkan, "Uangku Usahaku" terdiri dari kurikulum khusus yang mengajarkan para siswa nilai uang dan menggunakan uang secara bijaksana pada siswa-siswi kelas I-III SD. Bekerja sama dengan Prestasi Junior Indonesia (PJI-Junior Achievement Worldwide) dan Dinas Departemen Pendidikan DKI Jakarta, program yang telah dikembangkan oleh tim Junior Achievement Worldwide di Colorado, Amerika Serikat (AS), ini akan dilaksanakan di sepuluh SD di Jakarta.

Adapun materi yang digunakan adalah cerita berjudul "Nisa Membeli Sebuah Hadiah". Cerita ini mengisahkan seorang anak bernama Nisa yang harus berusaha sendiri mendapatkan uang untuk membeli hadiah ulang tahun bagi temannya. Pesan moral yang ingin disampaikan dari cerita ini adalah upaya keras Nisa mendapatkan uang bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk orang lain dan teman-temannya.

"Karena program ini ditujukan untuk siswa-siswi kelas I sampai kelas III, storytelling dan puppet show (pertunjukan wayang) menjadi salah satu metode penyampaian yang efektif. Pada dasarnya, pada usia tersebut anak-anak lebih menyukai cerita sebab lebih mudah diserap dan menghibur," ujar Maya kepada Kompas.com.
Menggunakan teknik pengajaran storytelling, siswa diharapkan menjadi lebih kreatif dalam berpikir sehingga menambah wawasan dan meningkatkan daya imajinasinya. Teknik ini juga dirasa cocok untuk pelajar SD kelas I-III karena disesuaikan dengan kurikulum di masing-masing sekolah. Saat ini, di kelas I-II para siswa telah diberi pengenalan dasar-dasar mengenai uang dan menabung.

"Para guru pun mendapatkan ilmu tambahan dalam memberikan pengajaran mengenai uang, termasuk menambah wawasan mengenai teknik pembelajaran di kelas selain dari yang sudah ada selama ini," kata Maya. Tahun ini, program tersebut akan dijalankan di sepuluh sekolah, yang meliputi SD Adik Irma, SD Tarakanita 2, SD Islam Tugasku, SD Dwi Matra, SDIT Al-Azhar Kelapa Gading, SD Asisi, SD Bina Gita Gemilang, SDIT Al-Azhar 12, SD At-Taubah, dan SD Al-Ikhlas. 

Kegiatan ini dibawakan PM Toh atau Agus Nur Amal yang sudah dikenal anak-anak sebagai pencerita dan pembuat karakter tokoh di layar kaca. Untuk menjalankan tugasnya, PM Toh juga dibantu relawan HSBC yang bertindak sebagai narator yang selanjutnya diperagakan PM Toh melalui puppet show.

follow twitter @beiga2509

Mendidik Anak agar Tidak Materialistis

Adyanews - Orangtua zaman sekarang memiliki pekerjaan rumah demikian banyak dalam mengasuh dan membersarkan anak-anaknya. Hal yang paling kentara dan dirasa cukup sulit bagi orangtua adalah membesarkan anak tanpa tumbuh menjadi pribadi materialistis. Upaya orangtua harus  demikian kuat agar bombardir iklan di televisi, majalah, maupun pengaruh teman sebaya, yang menjadi beberapa faktor atas sifat materialistis, dapat diredam.

Studi yang dilakukan oleh Penn State's Smeal College of Business, seperti dikutip dalam No More Misbehavin' yang ditulis oleh Michele Borba, Ed.D, menyimpulkan bahwa anak-anak sekarang lebih materialistis di usia yang lebih muda lagi. Karena itu, menjadi tugas orangtua untuk menanamkan pemahaman kepada anak bahwa karakter moral, kontribusi terhadap lingkungan, dan kualitas hubungan mereka akan jauh lebih bernilai ketimbang materi yang bisa diperoleh.

Dengan kata lain, orangtua perlu meyakinkan anak bahwa identitas mereka tidaklah didasarkan pada apa yang mereka punya, tetapi pada siapa mereka. Orangtua perlu mempelajari sejumlah cara bagaimana cara membesarkan anak tanpa membuat mereka menjadi individu yang materialistis. Berikut cara-cara yang disarankan:

* Membatasi tontonan televisi :
Ini aturan yang sering disebutkan oleh para ahli. Sebaiknya anak tidak menonton lebih dari dua jam setiap hari. Selain sejumlah program yang dibuat banyak yang masih tidak sesuai dengan usia anak, iklan yang muncul di antara program tersebut kerap menarik perhatian anak dan pada akhirnya membuat mereka menginginkannya. Cara lain yang juga dapat dilakukan adalah dengan mengalihkan perhatian anak saat jeda iklan. Kalaupun tidak, jelaskan kepada anak tentang teknik pemasaran yang biasa digunakan dalam iklan. Atau tonton acara yang tidak ada iklannya.

* Perhatikan apa yang diperhatikan anak: 
Bila Anda melihat anak ingin menggunakan celana jins skinny, pakaian dengan merek ternama karena melihatnya di majalah, inilah waktunya untuk menjelaskan kepada mereka agar tidak selalu mengikuti arus. Pada awalnya anak mungkin saja akan kesal, sebal, dan mengatakan Anda tidak paham perasaan mereka. Namun, dengan mengingatkan akan hal tersebut, pada akhirnya anak akan meresapi penjelasan Anda.

* Katakan "tidak":
Bukan tindakan tepat untuk selalu memberikan apa saja yang diinginkan anak. Lagipula, menurut Michele, Anda tidak selalu mendapatkan apa yang diinginkan dalam hidup ini 'kan? Mengatakan "tidak" atau menolak membelikan benda-benda yang diinginkan anak bukanlah hal keliru.

* Hadiah tanpa membeli:
Sesekali ada baiknya juga melatih anak untuk tidak membeli hadiah bagi anggota keluarga. Hal itu akan mendorong anak untuk kreatif dalam membuat hadiah tanpa mengeluarkan uang, misalnya membuat kartu, puisi, atau poster yang menggambarkan rasa sayang mereka bagi penerima hadiah.

* Menjadi panutan:
Sebelum terburu-buru menyalahkan iklan di televisi maupun teman sepermainan anak, coba lihat kembali diri sendiri. Apakah Anda gemar mengoleksi barang tertentu yang harganya sangat mahal? Apakah Anda sebagai orangtua suka membeli aneka busana dari perancang atau merek terkemuka? Kalau jawabannya iya, orangtua perlu membenahi diri. Perlu diingat, anak lebih meniru orangtuanya. Dengan kata lain, kalau orangtua ingin memiliki anak yang tidak materialistis, harus bisa menjadi contoh. Percuma saja orangtua mengajarkan anak untuk tidak selalu membeli barang mewah sementara sang ibu masih asyik membeli sepatu atau tas dengan harga selangit.

* Ajarkan prioritas:
Gunakan keputusan berbelanja sebagai peluang untuk mengajarkan perencanaan keuangan, termasuk bagaimana mengontrol keinginan yang tidak perlu. Saat berbelanja untuk keperluan sekolah, misalnya, minta anak untuk membuat daftar barang yang diinginkan lalu buat prioritasnya.

* Latih kesadaran untuk menyumbang:
Tidak harus memaksa anak untuk mau menyumbangkan benda kesayangan mereka. Orangtua bisa menjadi contoh baik dengan menyumbangkan barang sendiri untuk kegiatan amal dan jelaskan alasan Anda melakukan itu. Setelah itu biarkan anak tahu bahwa mereka dapat mendonasikan barang-barangnya juga. Barang tersebut bisa diberikan kepada sepupu yang lebih kecil ataupun kepada anak-anak yang tidak mampu. Hal itu akan membantu anak menyadari bahwa barang hanya objek semata. Mereka juga belajar untuk melepaskan kesenangan dari barang yang dimiliki agar orang lain dapat merasakan, kesenangan yang sama, seperti yang dialaminya.

follow twitter @beiga2509

Senin, 30 Januari 2012

Kebanyakan Ngegame, Anak Bisa Tumbuh Seperti 'Zombie'

Adyanews - Kebiasaan main game sampai larut malam bisa membuat anak kurang tidur dan selalu kelelahan. Ditambah berkurangnya kepekaan terhadap lingkungan sosial, generasi anak masa kini dikhawatirkan akan tumbuh seperti 'zombie' alias mayat hidup.

Sebuah badan amal yang peduli terhadap pemainan komputer, Wing South West memperkirakan kesehatan anak-anak yang kecanduan main video game akan sangat mengenaskan. Ibaratnya seperti habis dirajam, hanya saja bukan dengan batu melainkan dengan rasa lelah karena kurang tidur.

"Kami mengamati sejumlah anak yang sepanjang waktu seperti orang habis dirajam, bukan karena memakai obat terlarang tetapi karena kurang tidur setelah main game sepanjang malam," kata Paul Bowser yang memimpin penelitian itu seperti dikutip detikINET dari Dailymail, Selasa (31/1/2012).

Hal lain yang menjadi keprihatinan para peneliti adalah berkurangnya kemampuan sosialisasi atau bergaul. Anak-anak yang kecanduan game akan kehilangan empati atau kepekaan sosial, sehingga makin mirip dengan zombie dalam film-film horor.

Terlepas dari hasil penelitian tersebut, kebiasaan main game pada anak-anak memang sering dikaitkan dengan risiko kesehatan. Main game membuat anak kurang gerak, sehingga rentan kegemukan maupun menderita penyakit kronis seperti diabetes dan gangguan jantung.

Menanggapi hasil penelitian ini, seorang pemilik toko game di Plymouth, Bradley Brown menilai risiko ini bisa diatasi dengan adanya pendampingan oleh orangtua. Terlebih pada masa kini, banyak game-game yang menyediakan fasilitas pengaturan waktu agar mati sendiri jika sudah terlalu lama.

Malah jika digunakan dengan bijak, video game juga bisa meningkatkan kesehatan. Misalnya jika seseorang sedang merasa stres karena banyak pikiran atau masalah, risiko depresi bisa dikurangi dengan melampiaskan kepenatan tersebut saat bermain game.

follow twitter @beiga2509

Bahaya Bahan Pembuat Mainan Anak

Bahaya bahan pembuat mainan anak - Tak perlu membelikan anak mainan yang banyak. Sedikit mainan saja sudah membuatnya nyaman. Namun, harus diperhatikan terbuat dari bahan apa mainan anak tersebut.
Dengan bermain, anak akan memiliki dan mengembangkan potensi diri, daya pikir, dan kemampuan imajinatifnya. Banyak orang tua lebih mengajarkan bermain sambil belajar sesuatu hal kepada anaknya. Karena dengan metode seperti itu, si anak akan mudah menerima ajaran yang diberikan serta tidak akan membosankan.

Namun, dibalik indahnya bermain dengan anak, kita sebagai orang tua harus paham bahan apa yang tidak baik bagi kesehatan anak yang terdapat dalam mainan. Karena saat ini, mainan banyak terbuat dari bahan yang berbahaya dan beracun. Untuk itu, bagi orang tua harus benar-benar tahu apakah mainan anak nya mengandung bahan berbahaya atau tidak. Karena kalau benar ada bahan berbahaya dalam mainan, maka akan menganggu kesehatan sang anak.

Tips memilih mainan anak

  • Perhatikan bahan pembuatnya. kebanyakan bahan mainan anak terbuat dari plastik. Namun, bahan plastik ini juga beresiko mengandung bahan kimia. Karena amat mudah memasukkan bahan kimia ke dalam plastik. Jadi, hindari bahan mainan dari plastik ini. Kita bisa memilih bahan dari kayu, wol, atau material alami sebagai alternatifnya.
  • Pilihlah bahan organic. Memang harga yang ditawarkan bahan mainan organic ini lebih mahal dari yang biasa. Tentu saja, selain lebih aman dan ramah pada anak-anak, bahan organic ini akan dapat membantu merangsang pertumbuhan pada anak.
  • Hindari bahan berbahaya. Bahan mainan yang yang mengandung PVC, timah, BPA, dan phtalates sangat tidak aman bagi anak-anak. Ini berarti akan mengganggu kesehatan anak dan perkembangan nya.
  • Jangan beri anak mainan banyak. Sedikit mainan sudah cukup untuk nya bermain. Lebih baik dengan sedikit mainan namun dapat menghibur serta mendidik anak daripada banyak mainan namun tidak bermanfaat.
Jadi, sebagai orang tua, haruslah bijak dalam membelikan mainan untuk anaknya. Lebih aman membuat mainan sendiri dan juga lebih bermutu.(nb)

sumber :  http://aurapesona.com

Cara Memilih Makanan Sehat untuk Balita

Adyanews - Memilih makanan untuk Balita (bayi di bawah lima tahun) itu memang gampang-gampang susah, banyak makanan yang diproduksi oleh pabrik-pabrik makanan untuk anak-anak dan balita, tetapi tidak ada yang bisa memastikan apakah makanan-makanan tersebut memiliki dampak pada kesehatan atau tidak.

Balita dan anak-anak biasanya menyukai makanan yang manis dan gurih, sehingga mereka akan langsung memilih kue manis, donat atau snack kaya karbohidrat dan kaya perasa buatan daripada jenis makanan sayuran. Padahal kita tahu mana yang lebih sehat. Jangan menyalahkan mereka, karena yang harus kita ubah adalah menu makanan mereka. Buatlah menu yang cocok dengan lidah dan selera mereka.

Menjaga balita dari kelebihan gula, garam dan kalori sudah menjadi tugas kita sebagai orang tua. Agar kandungan nutrisi yang dibutuhkan balita tidak hilang, ada baiknya jika kita mengolah sendiri makanan sehat ini. Tidak sulit membuatnya, asal tau resep dan cara membuatnya, kita pasti bisa menyajikan menu-menu lezat ini. Jika masih bingung memilih jenis makanan apa, berikut ini adalah beberapa tips memilih makanan untuk balita :

Bubur sayur: Buatkan bubur sayur yang rendah lemak dan bebas perasa buatan. Campur sayur seperti wortel, brokoli, kembang kol dengan plain yogurth, bawang putih, perasan lemon, sedikit garam, merica dan madu. Sehat dan alami.

Omelet telur: Balita pasti suka dengan menu sederhana ini. Telur kaya dengan protein yang baik untuk masa pertumbuhan balita. Omelet ini juga membantu si balita kenyang lebih lama. Pilih telur ayam kampung untuk menu omelet ini.

Potongan blueberry dan yogurt: Balita tidak akan menolak makanan yang lezat dan lembut ini. Buah blueberry segar kaya akan vitamin C dan antioksidan. Yogurt kaya protein dan mineral. Keduanya bisa membuat daya tahan tubuh balita tetap terjaga.

Potongan apel segar yang dioles ke selai kacang: Ini adalah menu yang lezat. Apel yang 'kres' dicampur dengan gurih selai kacang. Apel kaya vitamin C dan vitamin A. Selai kacang kaya dengan protein dan lemak baik. Lebih baik lagi jika kita  membuat sendiri selai kacang ini agar tidak banyak mengandung gula.

Sereal dari gandum dan susu: Menu ini adalah kesukaan anak-anak dan kaya serat. Campur sereal, susu dan beri potongan kecil buah segar seperti strawberry atau apel. Pastikan kita memilih sereal yang tidak memakai banyak gula dan pemanis buatan. Jika si kecil merasa sereal ini kurang manis, beri sedikit madu.

Campuran pisang dan alpukat: Perpaduan manis pisang dan gurih alpukat akan membuat balita Anda suka. Dengan kandungan serat yang tinggi, kandungan kalium pada pisang baik untuk menjaga kesehatan buah hati Anda. Jangan takut dengan lemak nabati pada alpukat, ini baik untuk menjaga kesehatan jantung si kecil.

Roti tawar gandum dan selai keju: Daripada memilih roti tawar warna putih, pilih roti tawar yang terbuat dari gandum utuh. Jenis ini lebih kaya serat dan lebih sedikit kalori dibanding dengan roti tawar putih. Selai keju kaya akan protein, pilih yang rendah garam. Bisa juga kita oles dengan selai strawberry atau selai kacang buatan sendiri.

Smoothies: Minuman lembut ini tidak akan ditolak oleh balita. Blender buah kesukaannya dengan plain yogurt, tambahkan sedikit gula. Ini jauh lebih sehat daripada jus yang dijual dalam kemasan.
Dengan banyaknya menu, nutrisi yang sehat untuk balita dapat terjaga. kita juga bisa menjadikan menu di atas sebagai menu yang sehat untuk kita dan seluruh keluarga.

Asupan makanan yang kaya akan gizi sangat diperlukan balita dalam masa pertumbuhannya, pilihlah menu makanan yang sehat dan jangan membiarkannya memilih makanan-makanan siap saji, karena itu sangat buruk untuk gizi balita. 
 
sumber : Ballista.blogspot.com