Kamis, 19 Januari 2012

Amankah Menerapkan Vegetarian untuk Anak?

Adyanews - Banyak wanita memilih pola makan vegetarian untuk menjaga berat badannya tetap stabil. Namun, jika ini diterapkan pada anak-anak, apakah aman untuk kesehatan mereka? Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2008 oleh Harris Interactive atas nama Vegetarian Times melaporkan bahwa 7,3 juga orang dewasa di Amerika Serikat memilih pola diet vegetarian. Menurut Elizabeth Turner, Chief Editor dari Vegetarian Times, minat konsumen pada makanan vegetarian meningkat. Untuk orang dewasa, ini mungkin tidak mengherankan, tapi jika diterapkan pada anak-anak, apakah bermanfaat baik?

Seperti dilaporkan oleh KidsHealth, pola makan vegetarian menstabilkan berat badan yang sehat dan meningkatkan kesehatan jantung secara keseluruhan. Diet vegetarian juga mengurangi penyakit seperti hipertensi dan diabetes. Namun itu masih perlu dipertimbangkan jika ingin menerapkan diet vegetarian untuk anak-anak.

Menurut ahli gizi, Shannon Martinez-Pederson dan Carol M. Meerschaert V, sebelum merencanakan diet vegetarian untuk anak-anak, perlu dipertimbangkan juga kebutuhan gizi mereka. Ada banyak pilihan sayuran dan buah yang dapat dipilih untuk anak. Bisa saja diterapkan diet vegetarian untuk anak-anak, asalkan tetap memberikan asupan kalori karena mereka masih dalam masa pertumbuhan.(nb)

Ingin Punya Anak Pintar? Simak Rahasianya

Adyanews - Cikal bakal otak anak mulai terbentuk pada usia kehamilan dini. Anak sehat dan pintar di sana bermula. Dari situ pulalah, masalah dan gangguan perkembangan bisa muncul. Kalau mau memiliki anak yang pintar dimulai dari sini (masa awal kehamilan) karena lempengan otak sudah terbentuk saat usia kehamilan 18 hari. Maka itu, kehamilan tersebut benar-benar harus dipersiapkan, ujar dokter spesialis tumbuh kembang anak, dr Ahmad Suryawan SpA(K).

Dari bentuk lempengan, pertumbuhan otak dalam janin akan terus tumbuh. Puncaknya saat kehamilan antara empat bulan hingga enam bulan. Nutrisi yang baik dan didukung psikis ibu yang stabil akan membentuk sel-sel otak bayi. Semakin banyak sel otak yang tumbuh, semakin tercipta anak yang cerdas. Untuk itu, pada masa kehamilan, ibu dilarang stres karena akan memengaruhi perkembangan sel-sel pembentukan otak.

Setelah bayi lahir, sel-sel otak harus distimulasi agar semakin banyak pembentuk jaringan penghubung sel-sel otak. Masa stimulasi ini, lanjut dokter yang akrab disapa Wawan itu, sangat penting dilakukan sejak dini. Otak anak yang kurang stimulasi tak memiliki jaringan penghubung.

Wawan menitikberatkan masalah stimulasi dini agar para orang tua mengetahui perkembangan anaknya. Sebab, ada masa periode kritis. Saat itu, pertumbuhan otak anak tidak tumbuh dan tidak berkembang. Periode kritis ini adalah sebuah kurun waktu dalam pertumbuhan otak anak. Bila didapatkan gangguan, akan berakibat anak mengalami kelainan perkembangan yang permanen dan sulit disembuhkan, paparnya di Karawaci, Tangerang, Banten, beberapa waktu lalu.

Jika gangguan tersebut diketahui sejak dini, masih bisa dilakukan langkah-langkah perbaikan. Namun, jika deteksi terlambat, dikhawatirkan menjadi cacat seterusnya. Karena, pertumbuhan otak itu hanya sampai usia anak enam tahun.(nb)

Bayi Ternyata Mampu Membaca Gerakan Bibir

Adyanews - Bayi-bayi rupanya punya kekuatan tersembunyi. Tidak hanya dapat belajar bicara dengan mendengarkan suara orang tuanya, mereka juga mampu membaca gerak bibir juga. Dari satu riset terbaru di AS terungkap bahwa bayi berumur enam bulan mulai dapat melebarkan daya jangkau matanya untuk mempelajari mulut ketika orang berbicara padanya. ''Untuk dapat menirukan, bayi harus tahu dulu bagaimana bibir membuat suara yang mereka dengar,'' ujar ketua riset ini, David Lewkowicz dari Florida Atlantic University. ''Ini termasuk proses yang luar biasa rumit.''

Yang lebih menakjubkan, mereka tidak butuh waktu lama untuk belajar. Dalam beberapa bulan, bayi-bayi ini dapat menyerap ilmu soal gerakan bibir dan produksi suara. Ketika mereka ulang tahun ke-1, bayi sudah dapat memberikan respons dengan menatap mata orang tuanya. Kecuali, jika mereka mendengar suara yang tidak lazim, seperti bahasa asing yang tidak pernah mereka dengar.

''Ini benar-benar penemuan yang menarik,'' ujar Profesor Bob McMurray dari University of Iowa. Dia melanjutkan, bayi tahu apa yang mereka perlu tahu dan mereka mampu untuk mengerahkan perhatian untuk hal-hal yang penting dalam perkembangan mereka.''

Pilih Penggunaan Termometer Sesuai Usia

Adyanews - Siapa yang tidak cemas melihat buah hati demam? Pada saat anak demam, mungkin hal yang pertama Bunda lakukan adalah mengecek suhu tubuh si kecil dengan menggunakan termometer. Namun, apakah Bunda mengetahui bagaimana sebaiknya cara penggunaan termometer sesuai usia si kecil?
Siapa yang tidak cemas melihat buah hati demam? Pada saat anak demam, mungkin hal yang pertama Bunda lakukan adalah mengecek suhu tubuh si kecil dengan menggunakan termometer seperti dilansir dari infobunda.com
Namun, apakah Bunda mengetahui bagaimana sebaiknya cara penggunaan termometer sesuai usia si kecil? Berikut ini penjelasannya.
Bayi baru lahir hingga usia 3 bulan
Gunakanlah termometer digital untuk mengukur suhu tubuhnya. Termometer ini menggunakan sensor panas elektrik untuk mengukur suhu tubuh manusia. Untuk penggunaannya, Bunda bisa membaringkan si kecil dengan posisi telentang seperti ketika Bunda akan menggantikan popoknya. Kemudian masukkan termometer ke dalam rectal, hentikan jika terasa ada tahanan.
 Pilihlah termometer yang digunakan melalui anus. Jangan lupa untuk tetap melakukan kontak mata agar si kecil merasa nyaman.  Saat ini termometer digital terbaru juga sudah dapat memberikan hasil pengukurannya dalam hitungan detik saja.
Bayi usia 3 bulan hingga 4 tahun
Pada usia ini Bunda bisa memilih termometer digital yang dimasukkan ke dalam rectal, lewat mulut atau dijepit pada ketiak si kecil. Pemeriksaan melalui anus memang paling baik, namun jika si kecil suka menggeliat Bunda dapat melakukan pemeriksaan lain salah satunya melalui mulut. Bila pemeriksaan melalui mulut sulit untuk si kecil, Bunda dapat menggunakan termometer yang dijepitkan di ketiak si kecil, meskipun hasilnya tidak seakurat melalui mulut atau anus.
Usia 4 tahun ke atas
Untuk usia 4 tahun ke atas biasanya sudah bisa menggunakan termometer yang dimasukkan ke dalam mulut. Penggunaan termometer yang dimasukkan ke dalam mulut dapat memberikan hasil yang lebih akurat.  Apabila si kecil baru saja selesai makan sebaiknya tunggu sekitar 15 menit baru Bunda bisa mengukur suhunya dengan termometer di mulut. Sebaiknya tidak menggunakan termometer dari kaca karena lebih mudah pecah dan didalamnya terdapat zat berracun yang berbahaya bisa tertelan. 
Catatan:
Meskipun termometer bisa digunakan pada mulut, ketiak dan anus. Sebaiknya Bunda menyediakan 2 termometer yang berbeda. Jangan gunakan termometer dari mulut ke anus meskipun sudah dibersihkan.(nb)

Lebih Jauh Mengenal ADHD

Adyanews - Bunda mungkin pernah mendengar kata “ADHD”. Namun, Bunda mungkin tidak begitu mengetahui apa dan bagaimana ADHD itu.Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) adalah suatu kondisi yang merenggut  anak-anak dari kemampuan mereka untuk fokus dan dapat  memperhatikan sesuatu. Anak-anak dengan ADHD yang gelisah dan mudah terganggu. Hal ini membuat sulit untuk tetap "pada tugas," apakah itu mendengarkan guru atau menyelesaikan sebuah tugas seperti dilansir dari infobunda.com
Institut Nasional Kesehatan Mental memperkirakan 3% sampai 5% anak-anak menderita ADHD, tetapi beberapa ahli percaya angka itu bisa setinggi 10%.Anak penderita ADHD mempunyai tanda-tanda sulit fokus atau memberikan perhatian terhadap sesuatu, bersikap hiperaktif dan impulsif. Tanda-tanda  yang muncul paling tidak menetap selama 6 bulan. Biasanya muncul sebelum anak berusia 7 tahun, dialami pada 2 atau lebih suasana yang berbeda misalnya di rumah atau di sekolah.
Peran orangtua amat penting bagi anak penderita ADHD. Bagi orangtua harus tahu apakah si kecil memiliki ADHD atau tidak. Seringkali orangtua tidak sabar menghadapi anak yang terlalu aktif. Bedakan antara hiperaktif dan ADHD.  Bila si kecil seringkali terlihat tidak mau menyelesaikan tugasnya jangan langsung memarahinya dengan mengatakan “anak malas” atau “anak bodoh”. Dampingilah mereka dan konsultasikan kepada ahlinya jika ditemui tanda-tanda anak Anda memiliki ADHD.(nb)

Rabu, 18 Januari 2012

Bayi Ternyata Mampu Membaca Gerakan Bibir

Adyaraka - Bayi-bayi rupanya punya kekuatan tersembunyi. Tidak hanya dapat belajar bicara dengan mendengarkan suara orang tuanya, mereka juga mampu membaca gerak bibir juga. Dari satu riset terbaru di AS terungkap bahwa bayi berumur enam bulan mulai dapat melebarkan daya jangkau matanya untuk mempelajari mulut ketika orang berbicara padanya. ''Untuk dapat menirukan, bayi harus tahu dulu bagaimana bibir membuat suara yang mereka dengar,'' ujar ketua riset ini, David Lewkowicz dari Florida Atlantic University. ''Ini termasuk proses yang luar biasa rumit.''

Yang lebih menakjubkan, mereka tidak butuh waktu lama untuk belajar. Dalam beberapa bulan, bayi-bayi ini dapat menyerap ilmu soal gerakan bibir dan produksi suara. Ketika mereka ulang tahun ke-1, bayi sudah dapat memberikan respons dengan menatap mata orang tuanya. Kecuali, jika mereka mendengar suara yang tidak lazim, seperti bahasa asing yang tidak pernah mereka dengar.

''Ini benar-benar penemuan yang menarik,'' ujar Profesor Bob McMurray dari University of Iowa. Dia melanjutkan, bayi tahu apa yang mereka perlu tahu dan mereka mampu untuk mengerahkan perhatian untuk hal-hal yang penting dalam perkembangan mereka.''

Tips Cara Mengurus dan Mendidik Anak Tanpa Stress

Adyaraka - Sebagai orangtua yang baik kita harus bertanggungjawab dalam merawat, membesarkan dan mendidik anak-anak kita agar kelak dewasa menjadi orang yang mandiri, baik, soleh dan mampu menjadi ayah atau ibu yang baik bagi cucu-cucu kita. Dalam mengurus anak, memang tidak mudah karena membutuhkan kesabaran, ketekunan, keseriusan, keterampilan, kesiapan, kedewasaan, kemapanan, dan lain sebagainya.

Memang saat ini banyak kita temui laki-laki dan perempuan dewasa yang tidak siap menjadi seorang ayah atau ibu bagi anak-anaknya karena berbagai penyebab. Seharusnya orang yang telah menikah harus siap dalam berbagai hal termasuk kedatangan buah hati yang mungkin bisa lebih dari satu jumlahnya. Selain anak, konsentrasi pun harus bisa terpecah ke berbagai hal seperti pekerjaan, tetangga, orangtua, pasangan hidup, wali, saudara, rumah, kendaraan, lingkungan masysrakat, dan lain sebagainya. Semua bersatu padu menjadi satu kesatuan yang harus siap dihadapi oleh orang yang menginjak usia dewasa. Berbagai masalah pelik yang muncul dari rumah tangga belu tentu mampu dihadapi oleh setiap orang yang telah berumahtangga. Dalam tulisan kali ini akan lebih mengacu kepada persoalan pada membesarkan anak. Setiap fase dalam hidup anak kita bisa memunculkan masalah tersendiri, mulai dari di dalam kandungan, aru lahir, bayi, balita, usia baru sekolah, remaja, dan dewasa.   

Untuk memudahkan kita dalam membesarkan anak-anak kita ada baiknya untuk mengetahui tips-tips berikut di bawah ini :

1. Belajar Mengurus Anak Dari Berbagai Referensi Sejak Dini
2. Mempersiapkan Materi dan Mental Sebelum Memiliki Anak
3. Belajajar Manajemen Emosi Agar Tidak Mudah Terpancing
4. Berbagai Tugas Dengan Suami Atas Isteri Kita (Kerjasama)
5. Anak Yang Cerdas, Baik dan Soleh Sumber Kebahagiaan Orangtua
6. Menghadapi Anak Dengan Tenang, Tegas, Bijaksana dan Adil
7. Menyerahkan Segala Sesuatu Kepada Tuhan Yang Maha Esa
8. Tidak Malu Meminta Bantuan Apabila Dirasa Perlu
9. Masa Depan Anak Adalah Masa Depan Kita Juga
10. Anak Hanya Titipan Sementara, Amanah Bagi Kita

Apabila anda punya tambahan lain silahkan gunakan fitur komentar di bawah ini karena masukan anda akan sangat berguna sekali bagi para pembaca. Terima kasih.(nb)